Masuk Ruang Isolasi Keluarga Pasien Tuding ada Permainan Dana Covid -19, Komisi III DPRD Lebak Gelar RDP

Zona investigasi.com Lebak Banten- Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lebak menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) dan jajaran Rumah Sakit Dr. Adjidharmo di ruang paripurna DPRD Lebak Jum’at (2/10/2020).

Dalam rapat tersebut Komisi III mempertanyakan soal pelayanan yang ada RSUD Adjidharmo dan meminta penjelasan terkait pasien yang hasil rapid tes non reaktif akan tetapi dimasukan ke ruangan isolasi.

Ketua Komisi III DPRD Lebak, Yayan Ridwan, mengatakan, banyak hal yang ditanyakan DPRD kepada pihak RSUD Adjidharmo salah satunya soal dugaan permainan untuk menjadikan pasien negatif menjadi pasien positif yang berstatus Covid-19.

“ada beberapa anggota DPRD yang mempertanyakan apakah ini ada semacam permainan, bisnis itu lah,” kata Yayan.

Bambang Sp perwakilan dari keluarga pasien sekaligus anggota DPRD merasa kecewa terhadap pelayanan di RSUD Adjidharmo lantaran Ibundanya di paksa untuk di rawat di ruang isolasi, padahal hasil Swab belum ada hasilnya.

“Apakah dengan di masukannya Ibu saya ke ruang isolasi hanya untuk menyerap anggaran covid-19,” tanya Bambang.

Ia juga meminta agar dirut RSUD Adjidharmo menjelaskan semua anggaran terkait penanganan pasien covid -19 untuk di ketahui oleh masyarakat.

“Kalau tidak salah anggaran dalam penanganan pasien covid berkisaran Rp 16 juta rupiah sampai Rp 17 juta rupiah, coba kami minta anggaran tersebut di buka dan di jelaskan kepada kami di pakai apa saja itu anggaran,” terang Bambang.

Direktur RSUD dr Adjidharmo, dr Anik Sakinah, membantah kesimpulan anggota DPRD Lebak, terkait pasien, jika berada di ruang isolasi yang sangat minim fasilitas.

“Ini yang perlu dipahami oleh kita semua ya. Sebetulnya itu sangat kejam lah bagi kami, kesannya bahwa kami membunuh aduh, seperti apa sih karena kami tenaga kesehatan, naudzubillah min dzalik,” ujar Anik.

Ia menjelaskan, RSUD hanya menangani pasien dengan kondisi kategori sedang. Sementara jika mengalami pemberatan, pihaknya akan berupaya mencari rumah sakit rujukan.

“Kalau pasien sudah memberat kami berupaya mencari rujukan bukan mendiamkan, tapi kan enggak bisa kami ujug-ujug bawa pasien sebelum mencari rumah sakit rujukan. Kalau enggak ada ya kami rawat di sini,” tukasnya.

(Fik)

Author: Redaksi ZI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *