Mahasiswi IAIN Pamekasan Mengidap Penyakit Tumor Ganas, Harapkan Bantuan Dari Pemerintah

PAMEKASAN, Zonainvestigasi.com – Seorang Mahasiswi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur Madura. Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) semester 8 mengidap Kanker ganas di bagian lutut sebelah kanan, lantaran jatuh pada 2 Februari 2023 sebanyak dua kali.

Selain Mahasiswi, Gadis dengan nama Siti Qomariyah (24 tahun) warga Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan ini, mempunyai aktivitas sebagai guru ngaji di musholla dan juga membantu orang tua sebagai petani. Rabu (10 Juli 2024).

Muchtar, orang tua dari Siti Qomariyah, saat ditemui dirumahnya menjelaskan, bahwa putrinya ini mengidap penyakit tumor ganas. Saat melakukan pengobatan pada kakinya di RSUD Smart Panglegur Pamekasan, Pihak RSUD Smart menyarankan agar secepatnya dibawa ke RS.dr. Soetomo Surabaya.

Mendengar, keterangan dari seorang dokter, sontak Muchtar kaget bercampur sedih dengan mata berkaca kaca, namun Muchtar di depan anaknya berusaha tegar dan kuat agar anaknya tetap optimis.

Menurut Mochtar, Siti Qomariyah jatuh biasa ketanah di 2023 bulan Febuari. Keesokan harinya kaki anaknya tiba tiba terasa sakit dan keseleo yang dirasakan oleh anaknya.

Kemudian di bawa ke rumah pak Dirman, ahli tulang dan tak hanya satu kali ia berobat ke pak Dirman. Berselang waktu ia kembali lagi dan mendapat tongkat bantuan agar anaknya bisa berjalan.

Dengan tongkat itu, anaknya dapat berjalan dengan enak dan bisa kuliah lagi, namun tanpa diduga ketika Siti Qomariyah hendak ke rumah neneknya, ia terjatuh lagi di barat sumur selatan rumahnya, saat kondisi jalan basah dan licin.

Selanjutnya Mochtar bermusyawarah dengan keluarganya kalau bersedia mau di bawa ke rumah sakit (RS) surabaya. Kemudian sekeluarga bergerak cepat dengan membawa mobil operasional dari Desa ke Surabaya guna mendapat pelayanan cepat dari Rumah sakit.

Setelah melakukan rawat jalan sebanyak 9 kali. Pihak rumah menyarankan kepada keluarga untuk melakukan tindakan Operasi (amputasi).

“Sebenarnya saya kecewa, kenapa harus nunggu bolak balik Pamekasan – Surabaya hingga 9 kali, kalau akhirnya harus diamputasi,”ucap Muchtar.

“Ada satu pekan dari sekarang ini, pihak kepala desa (Kades) melihat anak saya dan mengupayakan untuk di bawa ke ortopedi di Solo, itupun masih belum tau akhirnya, karena masih menunggu keputusan dari kepala desa. Begitu pula dengan Babinsa juga mengusahakan bagaimana  anak saya agar bisa dioperasikan ke rumah sakit angkatan laut  di Surabaya,” Ungkapnya.

“Pokoknya saya kalau ke rumah sakit dr. Sutomo saya sudah trauma karena merasa di permainkan. Permasalahan kuliahnyapun di permasalahkan karena biasanya harus mengikuti KKN, tetapi dia tidak bisa ikut.
Dan pihak kampus tidak memaklumi anak saya dan KKN nya harus di desa lain padahal anak saya dengan jelas dan bukti sudah nyata keadaannya seperti itu,”sambungnya.

“Alhasil dari turun tangan Camat Tlanakan ibu Ida mendatangi ke kampus IAIN
untuk mengklarifikasi anak saya dan  bagaimana anak saya KKN nya  mandiri istilah nya, Alhamdulillah ibu camat berhasil melobi ke kampus, karena apabila tidak begitu bagaimana anak saya bisa ke kampus dengan  kondisi seperti ini, karena pihak kampus tidak memikirkan kondisi mahasiswa nya,” Urainya.

Disinggung soal kepedulian dosennya, Muchtar menyampaikan, kalau dari pihak kampus IAIN, belum ada yang menjenguk anaknya,

“Hal ini saya menerima dengan ikhlas dan mungkin  ini ujian untuk saya dan keluarga,” pungkasnya.

Saat ini Muchtar beserta beberapa sanak family berusaha untuk menggunakan pengobatan alternatif, Sambil lalu menunggu uluran tangan dari pemerintah atas sakit yang dialami anaknya.

“Saya harap bagi pemerintah minta kesadaran dan kepeduliannya terhadap anak saya yang masih berstatus mahasiswi dan belom lulus agar bisa sembuh dan bisa menyelesaikan kuliahnya,” Tutup Muchtar dengan nada sedih.
(M/din)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *