Kisah Inspiratif di Balik Pelestarian Budaya Malang: Dari Anak-Anak, untuk Masa Depan
Malang, zonainvestigasi.com – Di tengah hiruk pikuk kehidupan Kota Malang, semangat pelestarian budaya justru bersemi dari kalangan anak-anak dan remaja. Paguyuban Duta Kebudayaan Cilik dan Remaja Malang menjadi wadah bagi generasi muda untuk berkontribusi nyata dalam menjaga warisan leluhur.
Di balik program pelestarian budaya inklusif yang baru diluncurkan, tersimpan kisah-kisah inspiratif yang menyentuh hati. Salah satunya datang dari Dannis, siswa berprestasi SMP Negeri 1 Lawang, yang tak hanya bercita-cita menjadi bagian dari Malang yang berbudaya, tetapi juga berhasil meraih gelar Juara Wakil 1 Duta Kebudayaan Cilik Malang.
Dengan penuh penghayatan, Dannis menari mengikuti irama gamelan — setiap gerakannya memancarkan makna cinta terhadap budaya lokal.
“Saya sangat bersyukur dan bahagia atas gelar ini. Terima kasih untuk teman-teman, orang tua, pelatih, dan pihak sekolah yang selalu mendukung. Semoga saya bisa menjalankan amanah ini dengan baik dan terus berkontribusi melestarikan kebudayaan,” ujar Dannis penuh semangat. Sabtu (8/11/2025).
Semangat Dannis menjadi cerminan dari harapan banyak anak muda Malang — mereka tak hanya ingin menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif dalam menjaga budaya bangsa.
Ketua penyelenggara Paguyuban Duta Kebudayaan Cilik dan Remaja Malang, Albany Pasya, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan ruang bagi anak-anak dan remaja dalam berkreasi sekaligus berpartisipasi.
“Kami ingin menciptakan duta budaya muda yang tidak hanya mencintai, tapi juga aktif melestarikan budaya,” ungkap Albany.
Program ini memiliki empat fokus utama, yakni Budaya Ramah Anak, Museum Goes to School, Kolaborasi Multi-Sektor, serta Advokasi dan Aksi Sosial. Dukungan dari pemerintah dan berbagai komunitas menjadi modal penting dalam mewujudkan cita-cita besar ini.
Robby, ayah Dannis, turut menyampaikan kebanggaannya.
“Kami sangat bangga atas prestasi Dannis. Program ini benar-benar positif, memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar, berkreasi, dan menyalurkan bakat seni mereka. Harapannya, semakin banyak kegiatan serupa yang bisa menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap budaya,” tuturnya.
Kisah Dannis hanyalah satu dari banyak kisah inspiratif generasi muda Malang. Di tangan mereka, api pelestarian budaya terus menyala — menandakan bahwa masa depan budaya Indonesia akan tetap hidup dan berkembang.
Dengan sinergi berbagai pihak, mimpi menjadikan Kota Malang sebagai pusat pelestarian budaya yang inklusif dan berkelanjutan bukan lagi sekadar angan-angan.
(M/Anam)

