“BBM Aman, Yang Bermasalah Polanya!” — Panic Buying Sidoarjo Diduga Disetir Oknum, Distribusi Jadi Sorotan

zonainvestigasi.com

SIDOARJO | zonainvestigasi.com – Kepanikan warga yang berujung panic buying BBM di sejumlah SPBU di Sidoarjo pada Kamis, 1 lApril 2026 sejak pukul 07.30 WIB tak lagi dipandang sebagai reaksi spontan semata.

Di balik antrean panjang hingga 100–200 meter dengan 60–100 kendaraan di beberapa titik, mencuat dugaan adanya permainan pola distribusi dan peran oknum yang sengaja menggiring situasi.

Pantauan di lapangan menunjukkan lonjakan konsumsi terjadi secara tiba-tiba di sejumlah titik seperti:

SPBU 54.612.20 Jl. Raya Candi
SPBU 54.612.06 Jl. Raya Waru

SPBU 54.612.14 Jl. Raya Taman

Namun yang menjadi sorotan bukan hanya antrean, melainkan pola distribusi BBM yang dinilai tidak merata di waktu bersamaan.

Sejumlah sumber di lapangan menyebutkan, pengiriman BBM ke SPBU sebenarnya tetap berjalan, namun:

Terjadi lonjakan permintaan mendadak dalam waktu singkat
Distribusi bersifat bertahap (tidak serentak di semua SPBU)

Ada dugaan percepatan pengurasan stok di titik tertentu akibat pembelian berlebih
Kondisi ini memunculkan efek domino. Ketika satu SPBU terlihat antre panjang, informasi tersebut cepat menyebar dan memicu kepanikan di titik lain, memperparah beban distribusi yang sebenarnya normal.

Kapolresta Sidoarjo, Kombes Pol. Christian Tobing, menegaskan bahwa secara sistem, tidak ada gangguan distribusi dari hulu.

“Distribusi dari Pertamina ke SPBU berjalan normal. Yang terjadi di lapangan adalah lonjakan permintaan akibat kepanikan,” tegasnya.

Namun demikian, aparat tidak menutup mata terhadap potensi permainan di tingkat bawah.

Dugaan mulai mengarah pada:
Oknum penimbun yang membeli dalam jumlah besar saat situasi panik
Penyebar hoaks yang mempercepat kepanikan massal
Hingga kemungkinan permainan distribusi di level mikro (lokal SPBU)

“Kami sedang mendalami apakah ada pihak yang sengaja memanfaatkan situasi ini.

Tidak menutup kemungkinan ada pola yang dimainkan,” lanjut Kapolresta.

Sementara itu, warga mengakui bahwa kepanikan lebih dipicu oleh informasi yang beredar cepat dibanding kondisi nyata di lapangan.

“Saya lihat di grup katanya BBM mau habis, begitu sampai SPBU Candi antreannya sudah panjang sekali,” ujar Andi (34).

Hal senada disampaikan Rina (29) di kawasan Waru.

“Antrean sampai keluar SPBU. Banyak yang takut kehabisan, jadi beli lebih dari biasanya,” katanya.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana rantai distribusi yang sebenarnya normal bisa terganggu hanya karena kepanikan kolektif.

Ketika pembelian tidak lagi berdasarkan kebutuhan, maka sistem distribusi yang dirancang stabil menjadi tertekan dalam waktu singkat.

Polresta Sidoarjo kini memperketat pengawasan di sejumlah SPBU, termasuk menelusuri pola pembelian tidak wajar dan alur distribusi di lapangan.

“Kami ingatkan, penyebaran hoaks dan upaya mengambil keuntungan dari situasi ini bisa berujung pidana.

Jangan bermain di tengah keresahan masyarakat,” tegas Kombes Christian Tobing.

Dengan kondisi ini, publik diharapkan tidak mudah terprovokasi. Sebab dalam banyak kasus,
krisis bukan terjadi karena barangnya langka, tetapi karena kepanikan yang sengaja diciptakan.

( Bayu )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *