Para Tokoh Masyarakat Bangkalan Khawatir, Icon Dan Budaya Kerapan Sapi Terancam Punah
Bangkalan.(zonainvestigasi.com) – Budaya Kerapan Sapi merupakan salah satu icon sekaligus tradisi masyarakat Pulau Madura yang di wariskan secara turun temurun dari nenek moyang orang Madura.
Namun kerapan sapi khususnya di Kabupaten Bangkalan dikhawatirkan akan punah, seiring dengan kurangnya dukungan serta support dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan dalam melestarikan kebudayaan bangsa, terutama di Pulau Madura sendiri.
Pernyataan tersebut di paparkan oleh Ketua Umum (Ketum) Paguyuban Karapan Sapi Se-Madura (Pakar Sakera), H. Moh. Tohir di Rapat Persiapan Kerapan Sapi Tingkat Kabupaten Bangkalan 2024 di Aula Diponegoro Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Jalan Soekarno Hatta No. 35 Bangkalan. Jumat (09/08/2024).
Rapat itu sendiri dipimpin oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Bambang Budi Mustika, dan dihadiri oleh Disporabudpar Bangkalan Ahmad Ahadian Hamid, perwakilan Kapolres, perwakilan Kodim 0829/Bangkalan, Ketua Umum Pakar Sakera H. Moh Tohir, Para Kades serta para tokoh masyarakat pemilik kerapan sapi Kabupaten Bangkalan yang tergabung dalam Perkasa Bangkalan.
Dalam kesempatannya, H. Moh Tohir, menjelaskan bahwa Budaya Kerapan Sapi akan dikhawatirkan punah di Bangkalan karena sulitnya mengakomodir cost pengamanan.
Karena berkaca pada event sebelumnya yang diselenggarakan di Desa Katol Kecamatan Geger Kabupaten Bangkalan.
Dimana pihak pengamanan membludak, baik itu dari TNI/Polri, Satpol PP maupun Dishub Kabupaten Bangkalan, dan personel petugas keamanan tampak lebih banyak dari jumlah penonton kerapan sapi, dan akibatnya pihak panitia membutuhkan cost yang lebih besar lagi.
“Kerapan sapi ini adalah budaya kami selaku orang Madura, dan jangan dianggap sesuatu yang ekstrem atau menakutkan.
Karena kerapan itu sebagai ajang silaturahmi bagi kami.
Oleh sebab itu, pihak Forkopimda tak perlu menerjunkan ratusan personil keamanan sampai di luar batas seperti itu”, sesalnya.
“Kebudayaan Kerapan Sapi ini sifatnya hanya cuma ingin melestarikan warisan nenek moyang kita dan bukan hal yang menguntungkan.
Malahan membutuhkan modal yang sangat besar untuk memelihara sapi kerap, agar prima dan larinya kencang waktu lomba di lapangan,” lanjutnya.
Pihaknya meminta, agar Pemerintah Kabupaten Bangkalan khususnya instansi terkait tak perlu lagi membebani para pelestari budaya kerapan sapi dengan cost biaya keamanan yang besar.
“Seperti contohnya yang terjadi di Desa Katol itu, jumlah anggota keamanan yang di terjunkan pada saat itu sekitar 400 personil, coba bayangkan berapa cost yang harus kami keluarkan untuk membayar honor tiap-tiap personel, lain lagi ditambah uang makan serta transportasinya, maka dampaknya sangat memberatkan kepada panitia lomba”, tutur Ketua umum Pakar Sakera atau yang lebih akrab dipanggil Aba Tohir itu.
Akibat dari personil pengamanan yang terlalu banyak, maka dampaknya terhadap kenyamanan event kerapan sapi. Terlebih akan menimbulkan rasa takut bagi penonton kerap”, imbuhnya.
“Para penonton kerapan sapi akan merasa takut dan tanda timbul tanya besar dan risih serta campur aduk dalam hatinya, ketika melihat banyaknya aparat keamanan di lokasi.
Mereka akan merasa takut untuk datang menonton sapi kerap yang tak lain merupakan budaya mereka sendiri”, ungkapnya.
Dirinya sangat begitu yakin, jika hal itu terus diberlakukan oleh Pemkab Bangkalan serta kurang adanya support maupun dukungan Forkopimda setempat, maka nanti pada akhirnya sedikit demi sedikit budaya kerapan sapi ini akan semakin punah.
“Setelah kami pantau, di tiga kabupaten lain tidak seekstrim ini, cuma di Kabupaten Bangkalan saja.
Jadi kami selaku Ketua Umum Pakar Sakera Se Madura berkesimpulan jika cara pengamanannya terus di lakukan seperti itu dan kurang adanya dukungan dari pihak Pemkab, maka budaya Kerapan Sapi yang sudah di kenal oleh dunia tersebut bisa punah dengan sendirinya dan kepunahan Icon Pulau Madura itu akan dimulai dari Kabupaten Bangkalan”, pungkasnya.
#(is-one)#

