Ngantuk atau Dipaksa? Truk PT Surya Plastik Logistik Terguling di Tol Gempas Km 756, Dugaan Pelanggaran Jam Kerja Menguat

zonaimvestigasi.com

ZONAINVESTIGASI.COM | SIDOARJO – Kecelakaan truk di Tol Gempas Km 756 arah Surabaya–Pasuruan, Senin (6/4/2026) pukul 04.30 WIB, bukan sekadar insiden sopir mengantuk.

Di balik tergulingnya truk bermuatan bahan baku plastik milik PT Surya Plastik Logistik, terendus dugaan kuat praktik kerja yang memaksa sopir melampaui batas manusiawi.

Truk dikemudikan S (45), warga Pasuruan, yang diduga telah mengemudi dalam durasi panjang tanpa jeda istirahat layak.

Kondisi ini disinyalir menjadi pemicu utama hilangnya konsentrasi hingga kendaraan besar itu oleng dan akhirnya terguling di jalur cepat.

Saksi mata menyebutkan, tanda-tanda bahaya sebenarnya sudah terlihat sebelum kejadian.

“Truknya jalan nggak lurus, seperti sopirnya sudah limbung.

Itu bukan sekadar ngantuk biasa,” ujar saksi dengan nada tegang.

Benturan keras membuat badan truk melintang, menutup sebagian ruas tol dan menciptakan potensi kecelakaan beruntun.

Fakta bahwa kejadian ini terjadi di jalur cepat pada jam rawan menjadi alarm keras:

satu kendaraan kehilangan kendali bisa berubah menjadi tragedi massal.

Kanit PJR Polda Jatim, AKP Yanu Heri Prasetyo, tidak menutup kemungkinan adanya pelanggaran serius.

“Ini bukan hanya soal sopir ngantuk.
Kami curigai ada faktor kelelahan akibat jam kerja yang tidak wajar.

Kalau benar ada pemaksaan target atau setoran, itu pelanggaran serius,” tegasnya.

Ia bahkan memperingatkan keras pihak perusahaan.
“Perusahaan tidak boleh lepas tangan.

Kalau terbukti mempekerjakan sopir tanpa memperhatikan waktu istirahat, itu sama saja membiarkan bom berjalan di jalan tol,” tandasnya.

Sorotan tajam kini mengarah ke PT Surya Plastik Logistik.

Praktik kejar target pengiriman yang kerap dibebankan ke sopir diduga menjadi akar masalah yang berulang namun kerap luput dari pengawasan.

Fenomena ini bukan baru. Di lapangan, banyak sopir mengaku dipaksa memilih antara keselamatan atau pekerjaan.

Dalam kondisi seperti ini, kecelakaan bukan lagi “musibah”, melainkan konsekuensi dari sistem yang abai.
Beruntung, dalam kejadian ini sopir hanya mengalami luka ringan.

Namun fakta bahwa truk bisa terguling di jalur tol tanpa menelan korban lain harus menjadi peringatan keras—ini nyaris berubah menjadi tragedi besar.

Pihak kepolisian memastikan akan menelusuri lebih dalam, termasuk memeriksa manajemen perusahaan, riwayat perjalanan sopir, hingga kemungkinan pelanggaran aturan jam kerja dan keselamatan transportasi.

Jika terbukti, kasus ini berpotensi menyeret bukan hanya sopir, tetapi juga korporasi ke ranah hukum.

Satu pertanyaan besar kini muncul: berapa banyak lagi nyawa harus dipertaruhkan sebelum praktik ini dihentikan? ( Bayu )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *