
zonainvestigasi.com Sampang 14 Januari 2026
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menelan anggaran triliunan rupiah dari APBN kembali menuai kritik di Kabupaten Sampang.
Meski diklaim sebagai solusi peningkatan gizi pelajar, fakta di lapangan menunjukkan kualitas makanan jauh dari standar ideal.
Sejumlah tenaga pendidik dan orang tua murid mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran besar yang seharusnya menjamin makanan sehat, layak, dan bergizi bagi siswa.
Anggaran Besar, Hasil Tak Seimbang
Secara nasional, pemerintah mengalokasikan puluhan hingga ratusan triliun rupiah untuk program MBG setiap tahunnya.
Namun di Sampang, hasilnya dinilai tidak sebanding dengan dana yang digelontorkan,
Beberapa sekolah melaporkan:
Porsi makanan terlalu kecil
Menu monoton dan minim protein
Sayur dan buah sering tidak tersedia
Kualitas makanan tidak konsisten
Distribusi terlambat
“Kalau melihat anggarannya, seharusnya anak-anak mendapat makanan yang benar-benar bergizi.
Tapi yang datang justru sering asal-asalan,” ujar seorang guru SD di Sampang.
SPPG Mandek, Distribusi Terganggu
Data dari Satgas MBG menyebutkan bahwa sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sampang sempat berhenti beroperasi karena persoalan pendanaan dan operasional.
Kondisi ini berdampak langsung pada siswa, karena:
Jadwal makan tidak menentu
Kualitas makanan menurun
Pengawasan gizi tidak optimal
Situasi ini memunculkan pertanyaan serius:
Ke mana aliran dana besar itu sebenarnya diarahkan?
Indikasi Lemahnya Pengawasan
Aktivis pendidikan menilai lemahnya pengawasan membuka celah:
Pengadaan makanan tidak transparan
Standar gizi tidak diaudit secara rutin
Tidak ada laporan publik tentang kualitas menu
Minim evaluasi berbasis data
Kalau pengawasan kuat, kualitas pasti terjaga.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya,” kata seorang pemerhati kebijakan publik.
Data BPS: Perlu Evaluasi Dampak
BPS Kabupaten Sampang bahkan melakukan Survei Khusus Program MBG untuk mengukur dampak terhadap gizi dan pendidikan.
Survei ini menunjukkan bahwa program masih membutuhkan perbaikan serius, terutama dalam aspek kualitas makanan dan keberlanjutan layanan.
Namun hingga kini, hasil survei tersebut belum sepenuhnya dipublikasikan secara terbuka kepada masyarakat.
Publik Menuntut Transparansi
Masyarakat kini mendesak:
Audit anggaran MBG secara terbuka
Evaluasi vendor penyedia makanan
Standar gizi yang jelas dan terukur
Pengawasan independen
Laporan berkala ke publik”
Jangan sampai program ini hanya jadi proyek besar tanpa manfaat nyata,” tegas salah satu wali murid.
Taruhannya Masa Depan Anak
Program makan gratis seharusnya menjadi investasi kesehatan dan pendidikan, bukan sekadar proyek seremonial.
Jika kualitas terus diabaikan, yang dirugikan bukan hanya negara, tetapi masa depan generasi Sampang. ( Mahram )

