Hari Kartini di Sampang, Kabid Disdik Sentil Negara dan Budaya Bungkam: KDRT Tak Bisa Lagi Ditutupi

zonainvestigasi.com

Sampang (zonainvestigasi.com) – Peringatan Hari Kartini di Kabupaten Sampang tahun ini mendapat nada lebih keras. Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF/PNFI) Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, Rr. Dewi Trisna, menegaskan bahwa Hari Kartini tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan, sementara kekerasan terhadap perempuan masih terus terjadi di balik tembok rumah tangga.

Menurutnya, negara dan seluruh elemen masyarakat harus berani mengakui bahwa kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pelecehan seksual, dan intimidasi terhadap perempuan masih menjadi persoalan serius yang kerap disembunyikan.

Banyak korban memilih diam karena takut, malu, dan tidak percaya akan perlindungan hukum.

“Selama korban masih takut melapor dan pelaku merasa aman, maka keadilan bagi perempuan masih jauh dari nyata,” tegas Dewi Trisna, Selasa (21/04/2026).

Ia menilai budaya bungkam selama ini menjadi tembok besar yang melindungi pelaku dan melemahkan korban.

Karena itu, momentum Hari Kartini harus dijadikan panggung keberpihakan kepada perempuan, bukan sekadar agenda simbolik mengenakan kebaya.

Kabid PAUD dan PNFI Disdik Sampang itu juga mendorong lembaga pendidikan agar tidak netral terhadap persoalan kekerasan.

Sekolah, kata dia, harus menjadi garda depan membangun kesadaran hukum, pendidikan perlindungan diri, serta keberanian melawan segala bentuk kekerasan sejak usia dini.

“Pendidikan tidak boleh hanya bicara nilai akademik.

Sekolah harus hadir mencetak generasi yang berani menolak kekerasan dan menghormati perempuan,” ujarnya.

Plt Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang tersebut menambahkan, jika keluarga, masyarakat, dan institusi pendidikan terus diam, maka kekerasan akan diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu, sinergi nyata harus dibangun untuk memutus rantai tersebut.

“Hari Kartini adalah pengingat bahwa perempuan bukan objek belas kasihan, tetapi subjek pembangunan yang wajib dilindungi hak dan martabatnya,” imbuhnya.

Ia pun mengajak seluruh pihak di Sampang menjadikan semangat RA Kartini sebagai gerakan sosial untuk melawan ketidak adilan, membuka akses pendidikan, dan memastikan perempuan tidak lagi sendirian menghadapi kekerasan.

(reporter is-one)